
Aminus.id, Bulukumba — Hutan Pinus Rombeng di Kabupaten Bantaeng hari itu dipenuhi aroma tanah basah dan suara riuh anak muda. Pada 26-27 April 2025, IKA SMAVEN Bulukumba berkolaborasi dengan KORPALA07 menggelar CAMP CERIA, sebuah perhelatan sederhana namun penuh makna — bukan sekadar berkemah, tapi membangun kenangan dan kebersamaan.
Begitu rombongan sampai di lokasi, perut lapar segera menyapa. Tak ada jamuan mewah, hanya Indomie siram yang terasa nikmat luar biasa di tengah hawa sejuk pinus. Tawa renyah dan suara sendok-garpu beradu menemani makan siang sederhana itu, membuat siapa pun merasa kembali ke masa-masa muda yang jujur dan apa adanya.
Setelah tenaga terkumpul, peserta mulai sibuk dengan urusan tenda masing-masing. Tali-temali, terpal, dan tiang tenda berbaur dengan celoteh ringan. Tidak ada ketergesaan; hanya kebersamaan dalam ritme alam yang lambat namun penuh kehidupan. Selesai mendirikan tenda, waktunya istirahat sejenak, membiarkan angin pinus meninabobokan tubuh lelah.
Also Read

Maghrib datang dengan kesejukan yang memanggil. Api dinyalakan, ayam dan ikan segar dipersiapkan untuk sesi bakar-bakar. Aroma daging terbakar di bara membuat malam semakin akrab. Di tengah api unggun yang mulai menjilat udara, canda dan kisah-kisah lama mulai mengalir—tentang sekolah, tentang petualangan, tentang mimpi yang belum selesai.
Usai makan malam, suasana berubah. Lampu senter menggantikan cahaya kota yang biasa mereka kenal. Sesi outbound dimulai: games, tantangan kecil, dan kerja sama tim. Setiap tawa pecah adalah bukti betapa kuat ikatan yang terjalin, meski usia dan jarak sempat memisahkan.
Saat malam kian larut, sesi diskusi lepas mengambil alih. Tidak ada moderator kaku, hanya lingkaran kecil dengan cerita-cerita besar tentang hidup, perjalanan, dan masa depan. Di akhir, sebuah materi malam disampaikan — tentang bagaimana alam mengajarkan ketangguhan dan bagaimana persahabatan menemukan maknanya di tengah gelap dan dingin.
Di bawah langit penuh bintang, CAMP CERIA menjadi lebih dari sekadar perkemahan: ia menjadi rumah sementara bagi jiwa-jiwa yang rindu pulang.














